Jawaban singkat: Landing page adalah satu halaman website yang dirancang untuk satu tujuan dan satu jenis pengunjung, biasanya yang datang dari iklan atau tautan promosi. Berbeda dengan beranda yang melayani banyak keperluan, landing page hanya mengajak pada satu tindakan, misalnya meminta penawaran atau menghubungi lewat WhatsApp. Halaman ini paling berguna saat Anda mempromosikan satu penawaran dan ingin pengunjung tidak tersesat.
Bayangkan Anda memasang iklan untuk satu paket layanan. Anggaran jalan, klik masuk, laporan iklan terlihat ramai. Tetapi yang menghubungi Anda sedikit, dan Anda tidak tahu mengapa. Banyak pemilik usaha langsung menyalahkan iklannya: gambarnya kurang menarik, targetnya salah, atau anggarannya kurang besar. Padahal sering kali masalahnya ada di tempat yang tidak ikut Anda periksa, yaitu halaman yang dibuka orang setelah mengklik iklan itu.
Iklan hanya bertugas mengantar orang ke sebuah alamat. Setelah itu, urusannya pindah ke halaman tujuan. Kalau halaman tujuan tidak fokus, lambat di HP, atau membuat pengunjung bingung harus ke mana, biaya klik sudah terlanjur keluar sementara tujuan iklan tidak tercapai. Halaman yang dirancang khusus untuk menangkap tamu iklan itulah yang disebut landing page. Artikel ini menjelaskan apa itu, apa bedanya dengan beranda dan sales page, kapan dipakai, seperti apa susunan yang baik, dan kesalahan yang paling sering terjadi.
Apa itu landing page?
Landing page adalah satu halaman website yang dibuat untuk satu tujuan dan satu jenis pengunjung. Namanya berarti halaman pendaratan: tempat pengunjung mendarat setelah mengklik sesuatu, misalnya iklan, tautan di media sosial, atau tombol di email. Isinya dipersempit supaya pengunjung hanya dihadapkan pada satu ajakan, misalnya meminta penawaran, mendaftar konsultasi, atau menghubungi lewat WhatsApp.
Kata kuncinya adalah fokus. Website biasa melayani banyak orang dengan banyak keperluan sekaligus. Landing page melayani satu orang yang datang dengan satu harapan, yaitu harapan yang dibangun oleh iklan atau tautan yang baru saja diklik.
Perlu dicatat, istilah ini punya dua arti yang sering tertukar. Dalam dunia iklan, Google menyebut halaman tujuan klik iklan sebagai landing page, apa pun bentuknya. Artinya, beranda pun secara teknis bisa menjadi landing page. Dalam arti pemasaran yang dipakai di artikel ini, landing page adalah halaman yang sengaja dirancang untuk satu tujuan. Perbedaan arti ini penting, karena kalau iklan Anda mengarah ke beranda, secara teknis Anda sudah punya landing page, tetapi bukan yang dirancang untuk iklan itu.
Apa bedanya landing page dengan beranda, company profile, dan sales page?
Ketiganya sering dicampur karena sama-sama berupa halaman website. Perbedaannya ada pada tujuan dan siapa yang diajak bicara. Tabel di bawah ini merangkumnya.
| Hal yang dibandingkan | Beranda / company profile | Landing page | Sales page |
|---|---|---|---|
| Tujuan utama | Memperkenalkan usaha secara menyeluruh dan membantu orang menemukan informasi | Mendorong satu tindakan tertentu, misalnya minta penawaran atau konsultasi | Meyakinkan pembaca sampai membeli satu produk atau paket |
| Siapa pengunjungnya | Campuran: calon klien, mitra, pelamar kerja, orang yang sekadar mengecek | Satu kelompok yang datang dari satu iklan atau satu tautan | Orang yang sudah tertarik dan sedang menimbang keputusan membeli |
| Menu dan tautan keluar | Banyak, supaya mudah menjelajah | Sedikit atau tidak ada, supaya perhatian tidak bocor | Sedikit, fokus ke tombol beli atau pesan |
| Panjang halaman | Bervariasi, terbagi ke banyak halaman lain | Ringkas sampai sedang, satu alur | Biasanya panjang, memuat penjelasan rinci dan keberatan yang mungkin muncul |
| Kapan paling cocok | Sebagai rumah tetap usaha di internet | Saat ada iklan atau promosi untuk satu penawaran | Saat penawaran butuh penjelasan panjang sebelum orang mau memutuskan |
Satu hal yang sering membingungkan: sales page sebenarnya jenis landing page yang lebih panjang dan lebih menekankan penjualan. Jadi hubungannya bukan saingan, melainkan keluarga. Landing page untuk jasa B2B biasanya lebih ringkas dan berujung ke permintaan penawaran. Sales page cocok untuk penawaran yang butuh banyak penjelasan sebelum orang berani memutuskan. Bahasan lebih lengkap tentang sales page ada di artikel terpisah.
Mengapa iklan yang diarahkan ke beranda sering terasa boros?
Ini masalah yang paling sering tidak disadari. Anda memasang iklan untuk satu paket, tetapi pengunjung mendarat di beranda yang bicara tentang semuanya: sejarah usaha, semua layanan, tim, berita, kontak. Orang yang tadi mengklik karena satu penawaran harus mencari sendiri penawaran itu. Sebagian akan mencari, sebagian lain menutup halaman.
Google pun memperhitungkan hal ini. Dokumentasi resmi Google Ads menyebut landing page experience sebagai salah satu dari tiga komponen Quality Score untuk iklan pencarian, bersama perkiraan rasio klik dan relevansi iklan. Komponen ini menilai seberapa relevan dan berguna halaman Anda bagi orang yang mengklik iklan, lalu diberi label di atas rata-rata, rata-rata, atau di bawah rata-rata dibandingkan pengiklan lain. Google juga menegaskan bahwa Quality Score bukan masukan langsung dalam lelang iklan. Ia dipakai sebagai alat diagnosis. Maknanya untuk Anda: bila label halaman tujuan Anda rata-rata atau di bawah rata-rata, itu tanda ada ruang untuk diperbaiki, bukan vonis.
Panduan Search Ads 360 dari Google menambahkan bahwa pengalaman halaman tujuan mencakup kegunaan dan relevansi informasi di halaman, kemudahan bernavigasi, jumlah tautan di halaman, dan kesesuaian dengan harapan pengguna setelah melihat iklan. Beranda dengan puluhan tautan menu jelas sulit memenuhi poin-poin itu untuk satu iklan yang spesifik.
Dua jalan pintas lain yang sering dipakai juga punya masalah serupa. Mengarahkan iklan ke profil Instagram membuat orang harus menebak mana postingan yang menjelaskan penawaran Anda. Mengarahkan iklan langsung ke chat WhatsApp tanpa konteks membuat calon pelanggan harus memulai percakapan tanpa tahu apa yang ditawarkan, berapa kisarannya, atau apa yang akan terjadi setelah mengirim pesan. Keduanya bisa jalan, terutama untuk usaha yang sudah dikenal, tetapi keduanya menggeser pekerjaan menjelaskan dari halaman ke Anda atau tim Anda, satu percakapan demi satu percakapan.
Apa yang terjadi kalau halamannya lambat di HP?
Kebanyakan klik iklan sekarang datang dari HP, sering lewat sinyal yang tidak sebaik Wi-Fi kantor. Halaman yang terasa cepat di laptop Anda bisa terasa lama di ponsel pengunjung. Karena biaya klik sudah dibayar sebelum halaman selesai muncul, kelambatan berarti uang terbuang tanpa sempat dilihat siapa pun.
Google memberi ukuran yang bisa dipakai, bernama Core Web Vitals. Menurut web.dev, halaman dianggap baik bila elemen terbesar di layar (biasanya gambar utama atau judul besar) tampil dalam 2,5 detik atau kurang sejak halaman mulai dimuat. Halaman juga perlu merespons ketukan dalam 200 milidetik atau kurang, dan tidak boleh bergeser-geser sendiri (angka pergeserannya 0,1 atau kurang). Penilaiannya memakai persentil ke-75 pengunjung nyata, dipisah antara HP dan komputer. Artinya, tiga dari empat pengunjung harus mengalami kondisi baik.
Apakah kecepatan benar-benar memengaruhi hasil bisnis? Ada beberapa laporan dari perusahaan besar yang bisa dijadikan gambaran, dengan catatan bahwa itu laporan pihak perusahaan sendiri dan belum tentu berlaku sama untuk usaha Anda. T-Mobile melaporkan di web.dev bahwa tingkat konversi turun dan tingkat pentalan (pengunjung langsung pergi) naik ketika halaman makin lama dimuat, dengan grafik yang menunjukkan kenaikan pentalan saat waktu muat bergeser dari 2 ke 7 detik. Rakuten 24 menguji dua versi halaman selama satu bulan dengan pembagian lalu lintas 50:50. Versi yang dioptimalkan untuk Core Web Vitals melaporkan konversi 33,13 persen lebih tinggi dan pendapatan per pengunjung 53,37 persen lebih tinggi. Namun, versi itu memuat beberapa perbaikan sekaligus, sehingga tidak diketahui mana yang paling berpengaruh, dan laporannya tidak memuat jumlah sampel maupun uji signifikansi.
Jangan ambil angka Rakuten sebagai janji untuk usaha Anda. Pelajaran yang aman diambil hanya satu: kecepatan halaman layak diperlakukan sebagai bagian dari hasil iklan, bukan urusan teknis yang bisa dinomorduakan.
Kapan sebuah usaha sebaiknya memakai landing page?
Landing page paling berguna ketika Anda punya pesan yang spesifik dan sumber pengunjung yang jelas. Contoh situasi yang umum:
- Anda memasang iklan berbayar untuk satu layanan atau paket tertentu.
- Ada promosi dengan batas waktu, misalnya penawaran konsultasi atau paket awal tahun.
- Anda menyebar satu tautan lewat email, WhatsApp Business, atau postingan media sosial untuk satu penawaran.
- Anda meluncurkan layanan baru dan ingin mengukur seberapa besar minat awalnya.
- Anda perlu mengumpulkan permintaan penawaran dari bisnis lain (B2B) dengan informasi awal yang seragam.
Sebaliknya, kalau Anda belum punya penawaran yang jelas, landing page tidak akan menolong. Halaman yang rapi tidak bisa menutupi penawaran yang kabur. Urutan yang sehat adalah menentukan dulu apa yang ditawarkan kepada siapa, baru merancang halamannya.
Seperti apa anatomi landing page yang baik?
Tidak ada satu rumus yang pasti berhasil untuk semua usaha. Namun ada urutan unsur yang masuk akal secara logika pengunjung, dan sebagian bisa dikaitkan dengan temuan penelitian kegunaan. Berikut susunan yang umum dipakai.
- Judul yang menyambung dengan iklan. Pengunjung harus langsung merasa berada di tempat yang benar. Kalau iklan menjanjikan 'website company profile untuk klinik', judul halaman sebaiknya bicara hal yang sama, bukan slogan umum.
- Penjelasan satu kalimat tentang manfaat. Apa yang didapat pengunjung, bukan daftar fitur Anda.
- Satu ajakan utama yang jelas. Tulis tombolnya spesifik, misalnya 'Minta penawaran website', bukan 'Mulai'. Nielsen Norman Group menemukan bahwa tombol generik seperti 'Get Started' bisa mendorong pengunjung ke jalur yang belum mereka siap tempuh, dan menyarankan teks yang menyebut dengan tepat apa yang akan terjadi.
- Bukti dan alasan percaya. Logo klien, contoh hasil kerja, testimoni asli yang boleh dipublikasikan, atau jumlah tahun berpengalaman, hanya yang benar dan bisa dibuktikan.
- Penjelasan singkat cara kerja atau isi penawaran. Apa yang didapat, berapa lama, apa langkah berikutnya setelah menghubungi Anda.
- Jawaban atas keberatan yang paling sering. Soal harga, waktu pengerjaan, atau risiko, dijawab terus terang.
- Ajakan yang diulang di bagian bawah. Orang yang sudah yakin setelah membaca tidak perlu menggulir kembali ke atas.
- Cara menghubungi yang mudah. Formulir pendek atau tombol WhatsApp yang sudah memuat pesan awal sesuai penawaran.
Soal letak, Nielsen Norman Group dalam artikel tentang lipatan halaman (fold) melaporkan dua hal yang relevan. Dalam data pelacakan mata dengan 57.453 titik fiksasi, area 100 piksel tepat di atas lipatan dilihat 102 persen lebih banyak daripada 100 piksel tepat di bawahnya. Mereka juga menegaskan bahwa lipatan masih berlaku, dan bahwa halaman yang terlalu kosong di bagian atas bisa memberi kesan seolah tidak ada isi lagi di bawahnya. Pelajarannya: bagian paling atas harus sudah memuat janji dan ajakan utama, tetapi tetap beri petunjuk bahwa ada penjelasan lebih lanjut di bawah.
Apa saja kesalahan umum pada landing page?
- Pesan iklan dan halaman tidak nyambung. Iklan bicara paket A, halaman membahas semuanya.
- Terlalu banyak tujuan. Menu penuh, tiga tombol berbeda, dua formulir, dan tautan ke media sosial di mana-mana.
- Halaman berat. Gambar berukuran besar tanpa dikompres, video otomatis, dan skrip yang menumpuk membuat halaman lambat di HP.
- Tombol dan formulir sulit dipakai di layar kecil. Kolom terlalu banyak, tombol terlalu kecil untuk jari.
- Klaim tanpa bukti. Kata 'terbaik' dan 'terpercaya' tanpa satu pun contoh nyata.
- Tidak ada pengukuran. Tanpa mencatat berapa pengunjung yang mengisi formulir atau menekan tombol WhatsApp, Anda tidak tahu halaman itu bekerja atau tidak.
- Tampilan tidak mencerminkan usaha. Untuk usaha yang menjual kepercayaan, seperti jasa profesional atau B2B, halaman yang tampak asal jadi mengirim sinyal yang salah sebelum satu kata pun dibaca.
Apakah landing page cukup, atau tetap perlu website lengkap?
Keduanya punya peran berbeda. Landing page menangani pengunjung yang datang dengan satu tujuan. Website lengkap, termasuk beranda dan company profile, menjadi tempat orang mengecek siapa Anda sebelum memutuskan, sebab calon klien B2B hampir pasti mencari nama usaha Anda sebelum menghubungi. Kalau yang ada hanya landing page, sebagian orang yang ingin tahu lebih banyak tidak menemukan jawabannya. Kalau yang ada hanya beranda, tamu iklan harus mencari sendiri penawarannya.
Satu hal lagi yang sering terlewat: landing page di platform pihak ketiga biasanya berada di alamat milik penyedia platform itu. Landing page di website milik Anda sendiri memakai nama domain Anda, sehingga reputasi, data kunjungan, dan kendali atas isinya tetap di tangan Anda. Itu sebabnya landing page yang dirancang dengan baik paling masuk akal ditaruh di website sendiri, sebagai bagian dari aset digital usaha, bukan dititipkan di tempat lain.
Langkah pertama untuk usaha Anda
Anda tidak perlu langsung membangun apa pun. Mulailah dengan pemeriksaan sederhana yang bisa dilakukan sore ini:
- Klik sendiri iklan atau tautan promosi Anda dari HP, dengan sinyal biasa, bukan Wi-Fi kantor. Catat berapa lama sampai halaman benar-benar bisa dibaca.
- Tanyakan pada diri sendiri: apakah orang yang baru melihat iklan itu langsung tahu mereka berada di tempat yang tepat dalam lima detik pertama?
- Hitung ada berapa pilihan tindakan di halaman itu. Kalau lebih dari satu atau dua, kemungkinan perhatian pengunjung terpecah.
- Cek apakah Anda bisa melihat berapa orang yang akhirnya menghubungi lewat halaman itu. Kalau tidak bisa, pengukuran perlu dipasang lebih dulu.
- Tentukan satu penawaran yang paling ingin Anda dorong sekarang, lalu tulis dalam dua kalimat untuk siapa penawaran itu dan apa langkah berikutnya.
Kalau hasil pemeriksaan menunjukkan halaman Anda lambat, tidak fokus, atau tidak bisa diukur, itu bukan tanda Anda salah memasang iklan. Itu tanda bahwa halaman tujuannya perlu dirancang untuk tugas tersebut, dan tempat yang paling tepat adalah website milik Anda sendiri. Bila Anda ingin berdiskusi tentang bentuknya, tim ScaleUp-In membantu merancang landing page dan company profile dengan tampilan serta kecepatan yang disesuaikan dengan usaha Anda.
Tanya jawab
Apa bedanya landing page dengan beranda?
Beranda melayani banyak jenis pengunjung dan banyak keperluan, sehingga punya menu dan tautan ke mana-mana. Landing page dibuat untuk satu tujuan dan satu penawaran, dengan pilihan tindakan yang sengaja dipersempit supaya perhatian pengunjung tidak terpecah.
Apakah iklan boleh diarahkan ke beranda?
Boleh, tetapi sering kurang efektif jika iklan membawa satu penawaran spesifik. Pengunjung harus mencari sendiri penawaran itu di antara banyak informasi lain. Dokumentasi Google Ads juga menilai relevansi dan kegunaan halaman tujuan sebagai salah satu komponen Quality Score.
Apakah landing page sama dengan sales page?
Tidak persis. Sales page adalah jenis landing page yang biasanya lebih panjang dan menekankan penjualan satu produk atau paket. Landing page punya cakupan lebih luas, termasuk halaman untuk meminta penawaran, konsultasi, atau pendaftaran.
Seberapa cepat landing page seharusnya dimuat di HP?
Panduan Core Web Vitals dari web.dev menyebut elemen terbesar di layar sebaiknya tampil dalam 2,5 detik atau kurang, diukur pada persentil ke-75 pengunjung. Angka ini target umum, bukan jaminan hasil bisnis tertentu.
Apakah landing page menjamin penjualan naik?
Tidak ada jaminan. Landing page yang baik membantu pengunjung memahami penawaran dan mengambil langkah berikutnya, tetapi hasilnya tetap bergantung pada penawaran, harga, target iklan, dan kepercayaan terhadap usaha Anda. Karena itu, pengukuran perlu dipasang sejak awal.
Sumber
- About Quality Score for Search campaigns (Google Ads Help)
- Landing page experience (Search Ads 360 Help)
- Web Vitals (web.dev)
- How Rakuten 24's investment in Core Web Vitals increased revenue per visitor by 53.37% and conversion rate by 33.13% (web.dev)
- T-Mobile case study on web performance (web.dev)
- The Fold Manifesto: Why the Page Fold Still Matters (Nielsen Norman Group)
- "Get Started" Stops Users (Nielsen Norman Group)